Total Tayangan Halaman

Selasa, 18 September 2018

Komunikasi Produktif - Mengendalikan Emosi

Bunda pasti pernah merasakan gemas bercampur kesal apabila melihat si kecil diperlakukan tidak baik oleh teman sepermainannya, seperti ketika ia dipukul atau saat mainannya dirampas. Tentu saja hal ini merupakan perasaan yang sangat wajar sebagai seorang Ibu, saya pun baru saja mengalami dan merasakannya.

Saat Faqih sedang bermain perosotan, seorang temannya dengan tidak sabar mendorong paksa. Belum sempat Faqih beranjak dari tempatnya, anak itu sudah meluncur menabrak Faqih. Tidak cukup sampai di situ, Ia pun memukul Faqih karena dianggap menghalangi jalannya. Wow... kira-kira seperti apa perasaan Bunda saat melihat si kecil diperlakukan seperti itu? Kesal? Marah?

Perasaan -perasan liar itu tentu saja hinggap dalam hati, namun kekesalan saya dan keterkejutan Faqih atas perlakuan anak tersebut seketika teralihkan oleh suara yang sangat menakutkan, menggelar, ditambah mimik wajah menyeramkan dari Ibu anak tersebut. "Hei... Nakal banget kamu!Mama cubit sini... Bikin Malu!" Teriak sang Mama, anak itu pun langsung menunduk takut, diam menerima omelan orang tuanya.

Seketika rasa kesal saya berganti menjadi iba. Saya langsung menghampiri Faqih dan bertanya
"Kakak gapapa?"
"Cacihan (kasihan)" jawab Faqih seraya menunjuk temannya. Jawaban yang justru tidak terduga karena ternyata kami satu frekuensi.

Setelah kondisi tenang, saya berkata kepada Faqih,"Kak, terima kasih untuk tidak membalas ya".
"Cama-cama (sama-sama)" jawab Faqih.
"Tadi ada yang pukul Kaka, kasihan ya... Boleh ga seperti itu?"
"No No"

Dari peristiwa ini, saya banyak sekali melakukan refleksi. Anak kita mungkin tidak atau belum mengerti apa yang kita lakukan dan katakan, tapi mereka tidak pernah salah meng-copy. Mereka akan merefleksikan apa yang diserapnya di rumah kepada lingkungan. Saat kita saja tidak dapat mengendalikan emosi, maka pantaskah kita meminta si kecil untuk mengendalikan emosinya?

Hari ini saya berterima kasih kepada Faqih, karena Ia mampu mengendalikan emosi dengan tidak membalas bahkan mampu berempati. Kita tidak pernah tahu tingkah laku apa yang akan diserap oleh anak-anak di rumah, karenanya selalu berusaha menjaga sikap dan mengendalikan emosi adalah solusi praktis untuk menanamkan pendidikan akhlak yang baik.


#hari4
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Senin, 17 September 2018

Komunikasi Produktif - Fokus pada apa yang kita inginkan bukan yang tidak kita inginkan!

Hai Bunda pembelajar, hari ini cuaca sangat panas ya... membuat malas dekat dengan kompor untuk memasak (cari alibi untuk ga masak hahaha 😜). Jadi, karena cuaca yang sangat mendukung, hari ini saya putuskan mengajak Faqih untuk membeli makanan siap saji.

Seperti biasa, Faqih sangat antusias sekali melihat mobil di jalan raya sehingga saya harus ekstra hati-hati menjaganya agar tak lepas dari genggaman. Sesampainya kami di tempat makan, Faqih mulai mencari celah untuk keluar mendekati jalan raya. Dalam situasi ini, saya mencoba mempraktekkan salah satu poin dalam komunikasi produktif yaitu "fokus pada apa yang kita inginkan bukan pada apa yang tidak kita inginkan". 

Jadi, alih-alih saya berkata "Faqih, jangan ke sana...", saya justru mencoba mengemukakan apa yang saya inginkan yaitu dengan berkata "Faqih, sini kak duduk di sini".

Begitu juga saat Faqih mulai berteriak, saya tidak mengatakan "Kakak jangan berisik!" tapi justru mencoba mengatakan apa yang saya inginkan yaitu "Kak, bicara pelan-pelan, ssttt... Seperti kalau ada baby yang tidur"

Alhamdulillah, reaksi Faqih cukup kooperatif dengan informasi yang saya sampaikan. Ia tidak berteriak lagi dan tidak keluar menuju jalan raya, walaupun masih menolak untuk duduk 😆. It's Ok kak, kan kita lagi sama2 berproses...

Dengan fokus pada apa yang kita inginkan, komunikasi akan lebih produktif dan efektif. Kita harus selalu ingat bahwa si kecil belum cukup dewasa untuk berpikir apa yang harus dan tidak harus ia lakukan. Bunda bisa bayangkan saat kita berkata "jangan berisik!" maka si kecil akan berpikir "lantas apa yang harus saya lakukan?" atau saat kita berkata "jangan ke sana!" Ia harus berpikir lagi "terus aku harus kemana?" Apabila ia tidak dapat menemukan jawaban2 itu, maka apa yang akan ia lakukan?

Memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Yuk membiasakan diri dari sekarang untuk fokus pada apa yang kita inginkan bukan pada apa yang tidak kita inginkan. 😄


#hari3
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Minggu, 16 September 2018

Komunikasi Produktif - Fokus pada Solusi bukan Masalah

Siapa yang tiba-tiba pusing melihat rumah super berantakan setelah sesi permainan bersama si kecil usai? *Tunjuk tangan sendiri*

Walaupun rumah berantakan adalah suatu keniscayaan yang hakiki seusai sesi bermain, ada banyak sekali ruang ekspresi dan eksperimen komunikasi produktif yang berada dibaliknya loh bunda. Seperti yang terjadi hari ini, Faqih menghancurkan kapur-kapur yang ia gunakan untuk latihan tracing di tembok melukisnya hingga menjadi bubuk, YESS... MENJADI BUBUK! bunda tidak salah baca, ia memang menumbuk kapurnya hingga menyerupai bedak tabur. *Inhale* *exhale*

Tidak perlu membayangkan seperti apa rupa ruangan setelah bertabur bubuk kapur warna warni ya Bun, membayangkannya berat... biar saya saja *apa sih...*

Sebelum belajar komunikasi produktif pasti saya sudah bernyanyi dengan nada sopran dengan tema stres berat melihat ruang berantakan. Namun, dalam komunikasi produktif kita diharapkan selalu fokus pada solusi bukan masalah dan senantiasa melibatkan anak dalam melakukan solusi tersebut. Baiklah, akhirnya saya melihat situasi ini sebagai tantangan untuk mempraktikkan teori ini.
Kali pertama yang saya lakukan adalah membiarkan ia memuaskan hasratnya untuk memproduksi bedak kapur, untunglah tagline salah satu detergent yang mengatakan 'berani kotor itu baik' selalu terngiang-ngiang menenangkan hati ini . Setelah Faqih puas, saya biarkan ia mengobservasi, untuk itu diperlukan akting yang mungkin akan terasa sedikit lebay saat dipraktikkan hahaha...

"Aaaahh... Kakaak, coba lihaat."
(Dengan ekspresi dan intonasi terkejut melihat kabstrakan ruangan)

Faqih tiba2 sadar kalau ruangan sangat kotor.
"UMI... KOTOOOR... IIIIH"

Ingat untuk selalu fokus pada solusi 
"Hmmm, bagaimana kalau kita bersihkan sama-sama yuk..."

Sim salabim dia langsung lari ke dapur mengambil sapu dan menyapu bubuk bubuk kapur yang tercecer di ubin. Yaa niatnya kan mau bersihin ya Bun walaupun kenyataannya malah tambah diratain 藍 it's Ok!

Bayangkan saja saat tangan mungilnya nanti sudah cukup kuat dan terampil memegang sapu, pasti ia tidak akan segan membantu ibunya merapikan sisa media bermainnya yang kotor. Bayangkan saja apabila ia terbiasa peka melihat masalah di sekitarnya dan fokus untuk mencari solusi untuk memperbaikinya, pasti hidup akan terasa lebih indah dan bermakna. Nah untuk itu semua butuh proses, konsistensi dan kesabaran. Biarlah waktu yang membuktikan bahwa proses yang baik tidak akan pernah mengkhianati hasil.



#hari2
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Sabtu, 15 September 2018

Komunikasi Produktif - Mengganti Kata "Tidak Bisa" Menjadi "Bisa"


Bermain di arena bermain anak selalu memiliki banyak tantangan bagi anak-anak pun orang tuanya. Seperti yang terjadi hari ini, Faqih menemukan tantangan baru yang harus ditaklukkannya yaitu “Jembatan Goyang”. Saat pertama kali mencoba arena ini, ia sempat ragu, berhenti sebentar seakan berpikir “what should I do?” dan akhirnya Ia pun melewatinya dengan berjongkok untuk menjaga keseimbangan. Sekali… dua kali… tiga kali… entah sampai berapa kali ia terus melewati jembatan itu sambil berjongkok. It's Ok Boy, you have tried to pass it anyway 😆

Dalam komunikasi produktif, kita diharapkan selalu mengganti kata “Tidak Bisa” menjadi “Bisa” karena kata itulah yang akan diproduksi oleh otak dan otak akan mengirimkan pesan kepada tubuh agar dapat melakukannya. Sebagai orang tua, saya harus selalu memberikan semangat dan afirmasi positif sebanyak yang ia butuhkan hingga ia dapat melakukannya. Maka, saya berdiri tepat di samping arena, mencari posisi yang dapat terlihat oleh Faqih agar ia tidak merasa sendiri dan lebih percaya diri. Saya pun selalu berkata “Ayo kak, kakak pasti bisa… pasti bisa, kakak anak hebat, berani, pasti bisa”

Setelah sekian kali, akhirnya Faqih berani mencoba untuk melewati jembatan goyang dengan BERJALAN bahkan kemudian ia malah berlari melewati jembatan goyang tersebut seakan itu bukan menjadi “masalah” lagi baginya, alhamdulillah…



#hari1
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Senin, 13 Agustus 2018

Stereotipikal dalam Novel “Bunga Roos dari Cikembang” Oleh Fitrian Eka Paramita


Bunga Roos dari Cikembang merupakan roman karya seorang sastrawan Melayu Tionghoa bernama Kwee Tek Hoay (KTH). Sekilas, roman ini terlihat sperti roman percintaan biasa antara Nyai dan tuannya yang dibumbui dengan perkawinan paksa yang mewarnai kisah cinta ketiga tokoh dalam novel ini (Ay Tjeng, Marsiti, dan Gwat Nio). Namun, jika diteliti lebih lanjut, maka ada gagasan lain yang dituangkan oleh KTH yaitu Ia ingin mengangkat derajat Nyai yang selalu lekat dengan stereotip-stereotip yang menjadikannya sosok yang sangat hina dalam masyarakat.

Prasangka yang subyektif dan belum tentu kebenarannya merupakan suatu gejala social yang selalu mewarnai kehidupan bermasyarakat. Ada dua hal dalam Roman Bunga Roos dari Cikembang ini yang mengandung stereotip terhadap sosok perempuan dari golongan dan status tertentu yang coba diangkat dan diketengahkan oleh KTH. Maka tulisan ini akan menggambarkan bagaimana KTH mengangkat dan menanggapi stereotip-stereotip yang berkembang dalam masyarakat pada masa itu.

Pertama, KTH mencoba mengangkat stereotip yang melekat pada perempuan Sunda dengan menghadirkan tokoh Marsiti. Marsiti adalah wanita berdarah Sunda yang dijadikan Nyai oleh Ay Tjeng seorang administrator perkebunan karet di daerah Gunung Mulia. Keduanya pun saling mencintai sehingga Ay Tjeng ingin menjadikan Marsiti sebagai istri yang sah. Namun, kasih sayang Ay Tjeng kepada Marsiti ditentang oleh ayahnya yang menganggap bahwa perempuan Sunda adalah perempuan yang pandai mengguna-guna, materialistis dan terkenal sebagai perempuan yang paling tidak setia.

“…. Maka janganlah kau kasih hatimu kerna dijebak oleh prampuan begitu, apalagi perempuan Sunda memang dari dulu sudah terkenal pande kongtauw dan mengeret, dan tersohor sabagi prampuan yang paling tidak setia di seantero Indonesia.”

Namun tokoh Marsiti yang dihadirkah oleh KTH bertolak belakang dengan subjektifitas tersebut. Marsiti digambarkan sebagai wanita yang memiliki cinta dan pengabdian yang tulus kepada tuannya, ia begitu setia kepada tuannya dan bukan seorang perempuan yang gila harta.  Hal ini terlihat dari keputusan Marsiti untuk meninggalkan Ay Tjeng karena ia tidak mau menjadi penghalang pernikahan Ay Tjeng dengan Gwat Nio, wanita pilihan ayahnya. Marsiti pergi tanpa sepengetahuan Ay Tjeng dan tidak membawa satu pun harta Ay Tjeng setelah sebelumnya Ia menolak diberikan sejumlah uang dari Oh Pin Lo, ayah Ay Tjeng, sebagai kompensasi atas kepergian Marsiti. Setelah berpisah dengan Ay Tjeng pun Marsiti tetap menjaga kesetiaan dan cintanya dengan tidak menikah dengan orang lain sampai maut menjemputnya. Dengan cara inilah KTH mematahkan stereotip yang melekat pada citra perempuan Sunda. Melalui Marsiti, Ia ingin menyampaikan kepada pembacanya bahwa tidak semua perempuan Sunda memiliki sikap materialistis, suka mengguna-guna dan tidak setia.

Kedua, penggambaran tokoh Marsiti selain menjadi pembelaan terhadap stereotip perempuan Sunda, juga menjadi pembelaan terhadap seorang Nyai yang selalu dianggap sebagai perempuan hina. Untuk mengangkat derajat Marsiti dan sebagai buah dari kemuliaan sikapnya, KTH manghadirkan tokoh Rosminah sebagai buah cinta Marsiti dengan Ay Tjeng. Sebelum meninggal dunia Marsiti berpesan pada Tirta, orang yang menjaga Rosminah setelah kepergiannya dari sisi Ay Tjeng, untuk menjaga Rosminah dan tidak memasukkannya ke dalam Islam serta tidak memberitahukan kepada sembarang orang bahwa ia adalah ibu kandung Rosminah.

Rosminah pun dipertemukan dengan Bian Koen yang sedang depresi karena kehilangan tunangannya, Lily, yang juga merupakan anak dari Ay Tjeng dengan Gwat Nio. Bian Koen pun menginginkankan Rosminah menjadi pengganti Lily. Namun, Rosminah tidak dijadikan seorang Nyai seperti Ibu dan Neneknya, Ia menikah secara resmi oleh Bian Koen dan kembali dipertemukan dengan Ay Tjeng, ayah kandungnya.  Dengan memberikan peruntungan kepada nasib Rosminah, KTH berusaha menaikkan derajat keturunan Marsiti dengan menjadikan anaknya sebagai istri yang sah dari laki-laki terhormat.

Jadi, Kwee Tek Hoay mematahkan stereotip yang melekat pada perempuan Sunda melalui tokoh Marsiti dan mengangkat derajat keturunan seorang Nyai melalui tokoh Rosminah. Lewat Marsiti, Ia menunjukkan bahwa tidak semua perempuan Sunda dan seorang Nyai memiliki sikap matrealistis, suka mengguna-guna, dan tidak setia. Sedangkan, lewat perubahan nasib Rosminah, Kwee Tek Hoay telah menaikkan derajat keturunan seorang Nyai.

Citra Perempuan Bali dalam Novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini


Judul Buku   : Tarian Bumi
Pengarang    : Oka Rusmini
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2007 (terbitan pertama tahun 2000)

Apabila terdapat anggapan dalam masyarakat bahwa perempuan Bali masih terbelakang dibandingkan laki-laki di bidang pendidikan, karier, pekerjaan atau dunia politik, tentu anggapan tersebut  sulit untuk dibantah. Fakta dan data di masarakat dengan mudah bisa mendukung nggapan tersebut benar. Namun, apabila terdapat anggapan bahwa perempuan Bali bersifat pasif, nrimo, atau berpangku tangan saja tanpa memperjuangkan nasibnya atau nasib kaumnya dalam kehidupan sosial, anggapan tersebut adalah keliru. Inilah yang coba diungkap oleh Oka Rusmini dalam karyanya yang bertajuk Tarian Bumi.  

Tema yang diangkat dalam Tarian Bumi adalah perempuan dan hubungannya dengan adat dan budaya yang berlaku dalam sistem masyarakat Bali, terutama sistem perkastaan yang sangat sarat dengan feodalisme. Semua tokoh dalam novel Tarian Bumi terikat oleh sistem kasta dan tidak dapat menghindar dari kenyataan tersebut.

Nenek, perempuan yang luar biasa keras. Dia adalah seorang putri
bangsawan. Sejak kecil nenek selalu bahagia. Apapun yang dimilikinya selalu terpenuhi. Ayah nenek seorang pendeta yang mempunyai banyak sisia, orang-orang yang setia dan hormat pada griya. Otomatis sejak mudanya nenek punya kedudukan yang lebih tinggi dan terhormat dibanding dengan perempuan-perempuan lain di griya. (Tarian Bumi,2007: 14).
Dari kutipan di atas, tergambar jelas betapa perempuan bangsawan diperlakukan dengan lebih terhormat dibandingkan dengan perempuan lainnya. Dalam novel Tarian Bumi digambarkan bahwa aturan adat dan kasta sangat mengekang anggotanya dan mensubordinasikan kaum perempuan. Seorang perempuan dari kasta brahmana yang ingin menikahi laki-laki sudra harus rela menanggalkan seluruh atribut kebangsawanannya dan hidup menderita bersama suaminya. Sedangkan, apabila laki-laki brahmana menikahi perempuan sudra, laki-laki tersebut akan tetap menjadi seorang brahmana dan perempuan yang dinikahinya akan menjadi perempuan brahmana mengikuti suaminya.

Sepertinya, Oka Rusmini ingin mengangkat fenomena dalam masyarakat Bali yang sangat erat hubungannya dengan gender. Perempuan-perempuan dalam novel ini adalah perempuan yang berjuang untuk dapat mempertahankan hak-haknya untuk hidup berbahagia di genggaman sistem yang menaunginya.

Secara garis besar, Tarian Bumi bercerita tentang seorang perempuan yang berasal dari kalangan brahmana bernama Ida Ayu Telaga Pidada. Telaga adalah seorang penari yang memiliki paras yang sangat cantik. Ia dipercaya memiliki taksu, semacam bakat bawaan yang diturunkan dari roh penari sebelumnya. Pesona Telaga yang terpancar ketika menari dapat membuat seluruh laki-laki dari semua golongan masyarakat terpikat olehnya.

Pembentukan Telaga sebagai manusia yang utuh dipengaruhi oleh perempuan-perempuan yang ada di dalam kehidupannya. Perempuan pertama adalah ibunya, Luh Sekar (Jero Kenanga). Sekar adalah perempuan dari golongan sudra yang memiliki paras serta tubuh yang indah. Namun, kehidupan Sekar tidak seindah tubuh dan parasnya, kemiskinan telah membelit keluarganya sehingga membuat kehidupannya begitu menderita. Untuk merubah nasibnya, Sekar berambisi untuk menjadi seorang penari sekehe jogged. Ambisinya pun tercapai, Sekar berhasil menjadi penari dan diidolakan banyak kaum lelaki. Sampai suatu saat seorang laki-laki bangsawan terpikat olehnya dan menjadikannya sebagai seorang istri. Dengan demikIan, Sekar telah menjadi seorang bangsawan dan harus membuang segala hal yang berkaitan dengan kesudraannya.

Perempuan kedua adalah neneknya, Ida Ayu Sagra Pidada. Ia adalah seorang perempuan bangsawan yang sangat cantik. Karena kecantikannya, banyak laki-laki yang menginginkan Sagra sebagai pendamping hidupnya. Namun, tidak satu pun laki-laki yang dapat menarik hati Sagra. Sampai akhirnya orang tuanya menjodohkan Sagra dengan laki-laki miskin. Karena karat kebangsawanan Sagra lebih tinggi dari suaminya, maka ia lebih berkuasa di rumah. Suami Sagra pun berambisi untuk menyetarakan derajatnya dengan Sagra. Seiring berjalannya waktu, Sagra mulai mencintai suaminya. Namun sayang, suami Sagra tidak pernah benar-benar mencintainya, bahkan ada rumor yang mengatakan bahwa suaminya memiliki hubungan gelap dengan seorang perempuan sudra dan telah memiliki seorang anak. Karena itu, Sagra selalu menasihati Telaga agar memilih laki-laki yang dapat memberikan cinta dan kasih agar cucunya itu tidak pernah merasakan penderitaan yang ia rasakan.

Perempuan ketiga yang berpengaruh dalam peta pembentukan Telaga sebagai seorang manusia yang utuh adalah Luh Kembren, guru tari pribadinya. Kambren digambarkan sebagai sosok perempuan yang memiliki seluruh kecntikan perempuan Bali ketika ia masih muda. Kambren adalah penari yang sangat berbakat dan telah tercatat dalam sejarah nasional. Penghargaan yang ia terima pun sangat banyak. Akan tetapi, penghargaan tersebut tidak pernah berbentuk materi sehingga kehidupan Kambren pun sangat jauh dari sejahtera. Kambren telah melihat berbagai kriteria laki-laki dalam hidupnya. Kambren tidak pernah merasa membutuhkan laki-laki dalam hidupnya, ia merasa bahwa laki-laki hanya menginginkan keelokan tubuhnya. Suatu saat, Kambren jatuh cinta dengan seorang seniman asing. Namun sayang, seniman tersebut menyukai sesama laki-laki, anehnya Kambren tidak dapat berhenti mencintainya. Karena itu, ia tidak pernah menikah hingga akhir hayatnya.

Ketiga perempuan tersebut adalah perempuan yang memiliki peran penting dalam kehidupan Telaga. Hingga akhirnya Telaga berani mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya yaitu menikahi Wayan Sasmitha, laki-laki sudra yang ia cintai selama bertahun-tahun. Pernikahan yang dilarang oleh adat tersebut membuat Telaga harus membuang semua atribut kebangsawanannya.

Seperti apa perempuan-perempuan ini membentuk pribadi Telaga? Apakah Telaga menyesal dengan keputusannya? Bagaimana kehidupan Telaga setelah menikahi laki-laki pilahan yang sangat dicintainya? Jawaban tersebut akan Anda dapatkan dengan membaca novel ciamik karya Oka Rusmini ini. Selamat membaca….

Senin, 30 Juli 2018

MENULIS? SIAPA TAKUT...

Menulis dan Konsistensi 

Dua hal yang berpeluk berkelindan, semakin sering berpeluk semakin luar biasa hasilnya. Inilah tema sharing DUNIA PENULIS bagian satu dari wanita yang luar biasa menginspirasi teteh Indari Mastuti. Masya Allah, sharing beberapa hari lalu tersebut telah menampar bagian terdalam diri saya. Kok merasa ditampar? Ya iyalah mau jadi penulis tapi tidak konsisten, hiks… punya mimpi tapi tidak maksimal dalam berikhtiar, terlalu banyak alasan untuk memaklumi ketidakkonsistenan diri. Yess… tamparan keras yang insya Allah dapat menjadi pelajaran berharga. Jadi siapa di sini yang mau ikutan ditampar? Hahaha… Atau mau dielus-elus saja supaya tidur? #loh

Melihat semangat dan konsistensi teteh Indari ini benar-benar membuat saya merasa bagaikan remah-remah kue lebaran. Meniti proses dalam dunia kepenulisan memang tidak bisa instan, seperti pepatah mengatakan yang instan akan lekas tenggelam, maka untuk dapat berkembang dalam dunia ini butuh KEISTIQOMAHAN.

Nah sekarang yang menjadi pertanyaan adalah “Saya sudah sangat menggebu-gebu banget nih, tapi bingung mau nulis apa ya?” Tenang… Teman-teman tidak sendiri kok, buanyaaak yang bingung ingin memulai dari mana. Inilah yang kadang menjadi alasan mengapa mimpi tinggalah mimpi. Terkadang, kita terlau banyak alasan untuk memulai, terlebih banyak bisikan-bisikan ghaib yang menghambat seperti “duh bingung nih mau nulis apa? “ “aaah.. sibuk banget ngurusin bocah dan rumah, belum lagi urusan kantor” “Aduuuh, masih newbie gini, jadi minder takut tulisannya jelek” dan bisikan bisikan lainnya yang membuat kita bahkan tidak pernah memulai langkah pertama kita (curhaaatan sendiri 😛).

Izinkan saya cerita sedikit mengenai sosok inspirasi dalam tulisan ini, Indari Mastuti, Ibu cantik ini sudah mengeluarkan 65 judul buku, ratusan artikel, dan bahkan sudah memiliki perusahaan di bidang jasa penulisan bertajuk INDSCRIPT CREATIVE (bisa dilihat di www.indscriptcreative.com). Keren kan? Weiits tapi proses beliau sampai pada titik sukses ini tidak instan buibu… Teteh memulai karirnya dengan menulis buku diary dari kelas 2 SD (wow…. kayaknya saya baru bisa nulis biodata di binder amigos tuh usia segitu 😃) dan sudah bercita-cita jadi penulis dari kelas 4 SD, kemudian tulisan pertamanya yang dimuat di majalah ketika beliau kelas 1 SMA. Dari situ, karir penulisannya terus berlanjut dari mulai menjadi kontributor majalah remaja, kontributor tabloid hingga akhirnya pada tahun 2004 beliau mengeluarkan sebuah buku. Artinya apa saodara-saudara? butuh 16 tahun bagi teteh untuk naik kelas ke tahap selanjutnya dari hanya sekedar menulis diary – menulis artikel – menulis sebuah buku, dan sampai saat ini teteh masih konisten menulis.

So, dari cerita diatas sudah dapat kan jawaban dari pertanyaan “Mau mulai darimana?...”
Lalu, setelah mulai harus gimana dong biar semangatnya tetap menggebu-gebu dan konsisten?
Ini PR yang agak susah sebenarnya (eh ga boleh bilang susah sebenarnya… MUDAAAH!!) Saya akan buka rahasia besar teteh Indari dalam menjaga konsistensinya, ssttt…. Ini rahasia ya, jangan disebarluaskan!

Kuncinya adalah… MENETAPKAN TARGET YANG JELAS harus menulis berapa halaman setiap hari. Kalau tidak mencapai target gimana dong? JADIKAN HUTANG dan ditambah dengan TARGET BERIKUTNYA Nah, kalau orang bertanggung jawab, punya utang pasti kepikiran sampai ga bisa tidur, jadi otaknya selalu berpikir BAGAIMANA CARANYA SAYA MEMBAYAR HUTANG? Caranya ya singsingkan lengan baju, depak semua alasan, buang malas, buka laptop dan mulai menulis! KERJAKAN TARGET.

Metrik Penulisan dari Teh Indari agar target terukur jelas

Ingat buibu per saja harus ditekan keras agar dia bisa memantul tinggi, kita juga harus ketat dengan to do list yang kita buat, kadang memang harus DIPAKSA agar BISA. Hebatnya, teteh ini masih sempet tidur siang, main sama anak, dan nge-date bareng suami, padahal kesibukannya di dunia penulis dan bisnis itu beeuuuuh luarr biasaaaa…

Gimana cara bagi waktunya? Buat jadwal yang detail dan disiplin!

Contoh manajemen waktu dari Teh Indari... detail banget 😍

Langung revisi jadwal di rumah setelah melihat jadwal yang dibuat oleh teteh, sepertinya saya perlu lebih detail lagi nih…

Oke, setelah sedikit cerita di atas, masih takut untuk menulis? masih bingung?

Kalau saya insya Allah akan mulai memasukkan jadwal menulis minimal satu jam setiap hari, masih PR sih menentukan pukul berapa slot waktunya karena anak-anak belum punya waktu tidur yang ajeg, kemungkinan terbesarnya setelah anak-anak tidur.

Apa yang ingin saya tulis?
Sejauh ini saya masih ingin menghidupkan blog ini. Jadi target menulis saya adalah…
Senin Parenting 
Insya Allah SETIAP hari Senin, akan ada postingan bertema Parenting di blog ini.
Rabu Review 
Nah Setiap Rabu akan ada review baik film atau buku, target ini memaksa diri sendiri untuk membaca juga setiap minggu jadi siap-siap singsingakan lengan baju hehehe…
Jumat Seru 
Kalau Jum’at insya Allah akan ada tulisan mengenai kegiatan anak-anak di rumah. Target ini juga memaksa diri untuk lebih kreatif dan lebih semangat dalam membersamai anak bermain sambil belajar di rumah.

Bisa? Insya Allah PASTI BISA 



MANTAPKAN NIAT, ATUR STRATEGI, MAKSIMALKAN POTENSI, DISIPLINKAN DIRI, MAKA SEMESTA AKAN MENGAMINI




#kejarmenulisIPTangsel
#kulwapTehIndari