Judul Buku : Tarian Bumi
Pengarang : Oka Rusmini
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2007 (terbitan pertama tahun 2000)
Tema yang diangkat dalam Tarian Bumi adalah perempuan dan hubungannya dengan adat dan budaya yang berlaku dalam sistem masyarakat Bali, terutama sistem perkastaan yang sangat sarat dengan feodalisme. Semua tokoh dalam novel Tarian Bumi terikat oleh sistem kasta dan tidak dapat menghindar dari kenyataan tersebut.
Nenek,
perempuan yang luar biasa keras. Dia adalah seorang putri
bangsawan. Sejak
kecil nenek selalu bahagia. Apapun yang dimilikinya selalu terpenuhi. Ayah
nenek seorang pendeta yang mempunyai banyak sisia, orang-orang yang
setia dan hormat pada griya. Otomatis sejak mudanya nenek punya
kedudukan yang lebih tinggi dan terhormat dibanding dengan perempuan-perempuan
lain di griya. (Tarian Bumi,2007: 14).
Dari kutipan di atas, tergambar jelas betapa perempuan bangsawan
diperlakukan dengan lebih terhormat dibandingkan dengan perempuan lainnya. Dalam
novel Tarian Bumi digambarkan bahwa
aturan adat dan kasta sangat mengekang anggotanya dan mensubordinasikan kaum
perempuan. Seorang perempuan dari kasta brahmana
yang ingin menikahi laki-laki sudra harus rela menanggalkan seluruh atribut
kebangsawanannya dan hidup menderita bersama suaminya. Sedangkan, apabila
laki-laki brahmana menikahi perempuan
sudra, laki-laki tersebut akan tetap
menjadi seorang brahmana dan perempuan yang dinikahinya akan menjadi perempuan brahmana mengikuti suaminya.
Sepertinya, Oka Rusmini ingin mengangkat
fenomena dalam masyarakat Bali yang sangat erat hubungannya dengan gender.
Perempuan-perempuan dalam novel ini adalah perempuan yang berjuang untuk dapat
mempertahankan hak-haknya untuk hidup berbahagia di genggaman sistem yang
menaunginya.
Secara garis besar, Tarian Bumi bercerita tentang seorang perempuan yang berasal dari
kalangan brahmana bernama Ida Ayu
Telaga Pidada. Telaga adalah seorang penari yang memiliki paras yang sangat
cantik. Ia dipercaya memiliki taksu,
semacam bakat bawaan yang diturunkan dari roh penari sebelumnya. Pesona Telaga
yang terpancar ketika menari dapat membuat seluruh laki-laki dari semua
golongan masyarakat terpikat olehnya.
Pembentukan Telaga sebagai manusia
yang utuh dipengaruhi oleh perempuan-perempuan yang ada di dalam kehidupannya.
Perempuan pertama adalah ibunya, Luh Sekar (Jero Kenanga). Sekar adalah
perempuan dari golongan sudra yang
memiliki paras serta tubuh yang indah. Namun, kehidupan Sekar tidak seindah
tubuh dan parasnya, kemiskinan telah membelit keluarganya sehingga membuat
kehidupannya begitu menderita. Untuk merubah nasibnya, Sekar berambisi untuk
menjadi seorang penari sekehe jogged.
Ambisinya pun tercapai, Sekar berhasil menjadi penari dan diidolakan banyak
kaum lelaki. Sampai suatu saat seorang laki-laki bangsawan terpikat olehnya dan
menjadikannya sebagai seorang istri. Dengan demikIan, Sekar telah menjadi
seorang bangsawan dan harus membuang segala hal yang berkaitan dengan kesudraannya.
Perempuan kedua adalah neneknya, Ida
Ayu Sagra Pidada. Ia adalah seorang perempuan bangsawan yang sangat cantik.
Karena kecantikannya, banyak laki-laki yang menginginkan Sagra sebagai
pendamping hidupnya. Namun, tidak satu pun laki-laki yang dapat menarik hati
Sagra. Sampai akhirnya orang tuanya menjodohkan Sagra dengan laki-laki miskin.
Karena karat kebangsawanan Sagra lebih tinggi dari suaminya, maka ia lebih berkuasa
di rumah. Suami Sagra pun berambisi untuk menyetarakan derajatnya dengan Sagra.
Seiring berjalannya waktu, Sagra mulai mencintai suaminya. Namun sayang, suami
Sagra tidak pernah benar-benar mencintainya, bahkan ada rumor yang mengatakan
bahwa suaminya memiliki hubungan gelap dengan seorang perempuan sudra dan telah memiliki seorang anak.
Karena itu, Sagra selalu menasihati Telaga agar memilih laki-laki yang dapat
memberikan cinta dan kasih agar cucunya itu tidak pernah merasakan penderitaan
yang ia rasakan.
Perempuan ketiga yang berpengaruh
dalam peta pembentukan Telaga sebagai seorang manusia yang utuh adalah Luh
Kembren, guru tari pribadinya. Kambren digambarkan sebagai sosok perempuan yang
memiliki seluruh kecntikan perempuan Bali ketika ia masih muda. Kambren adalah
penari yang sangat berbakat dan telah tercatat dalam sejarah nasional.
Penghargaan yang ia terima pun sangat banyak. Akan tetapi, penghargaan tersebut
tidak pernah berbentuk materi sehingga kehidupan Kambren pun sangat jauh dari
sejahtera. Kambren telah melihat berbagai kriteria laki-laki dalam hidupnya.
Kambren tidak pernah merasa membutuhkan laki-laki dalam hidupnya, ia merasa
bahwa laki-laki hanya menginginkan keelokan tubuhnya. Suatu saat, Kambren jatuh
cinta dengan seorang seniman asing. Namun sayang, seniman tersebut menyukai
sesama laki-laki, anehnya Kambren tidak dapat berhenti mencintainya. Karena
itu, ia tidak pernah menikah hingga akhir hayatnya.
Ketiga perempuan tersebut adalah
perempuan yang memiliki peran penting dalam kehidupan Telaga. Hingga akhirnya
Telaga berani mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya yaitu menikahi
Wayan Sasmitha, laki-laki sudra yang
ia cintai selama bertahun-tahun. Pernikahan yang dilarang oleh adat tersebut
membuat Telaga harus membuang semua atribut kebangsawanannya.
Seperti apa perempuan-perempuan ini
membentuk pribadi Telaga? Apakah Telaga menyesal dengan keputusannya? Bagaimana
kehidupan Telaga setelah menikahi laki-laki pilahan yang sangat dicintainya? Jawaban
tersebut akan Anda dapatkan dengan membaca novel ciamik karya Oka Rusmini ini. Selamat
membaca….

Baguus 😍
BalasHapus