Total Tayangan Halaman

Selasa, 02 Oktober 2018

Komuniasi Produktif - Mengganti Nasihat dengan Refleksi Pengalaman

“Anak laki-laki, ga jantan kalau tidak ada bekas luka…”

Seorang teman pernah berceloteh demikian, padahal kenyataannya saya sebagai anak perempuan yang –dulu dibilang- sangat aktif pun selalu memiliki bekas luka. Tetapi, kali ini saya berterima kasih terhadap pengalaman yang meninggalkan kenangan manis di lutut, jidad, dan beberapa tempat lain yang justru membuat saya lebih mudah mempraktikan salah satu poin dalam komunikasi produktif yaitu “Mengganti Nasihat dengan Refleksi Pengalaman”. Ya, pengalaman memang selalu menjadi guru terbaik. Bahkan, saya sendiri sangat senang belajar dari kisah-kisah inspiratif sesorang dibandingkan dengan pemberian motivasi-motivasi yang hanya berbentuk kalmat-kalimat imperative dan persuasif.
***
Seperti hari-hari yang lainnya, Faqih bermain di halaman, berlari-lari mengejar anak ayam tetangga dan sesekali mengejar kupu-kupu yang terbang berlalu lalang, sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Namun, sesuatu menarik perhatiannya, di atas sebuah pohon jambu yang tidak seberapa besar namun cukup tinggi dibanding tubuh mungilnya. Di sisi pohon tersebut bersandar sebuah tangga yang memang dijadikan tempat bertengger ayam. Ia pun membiarkan tubuhnya memuaskan rasa keingintahuannya pun saya melakukan hal yang sama dengan membiatkannya bereksplorasi. Pelan-pelan ia naiki tangga tersebut dengan harapan dapat memastikan apa yang dilihatnya tadi. Sayangnya, kaki mungilnya belum cukup mantap untuk menyeimbangkan gerakan tubuhnya dan akhirnya... GUBRAAK  “adddddduuuuuhh…. Tolong….” Insiden yang tak terhindarkan pun terjadi…

“Kakak… sakit ya?” saya memberikan sedikit empati untuk menenangkan hatinya.

“adduuhh… sakit” Faqih sediki mengeluh tapi saya rasa tidak cukup sakit untuk membuatnya menangis, saya pun mengajaknya kedalam rumah untuk membersihkan luka dan kotoran di dengkul dan tangannya.

“Kakak… lihat deh, sama kan?” dengan bangganya saya menunjukkan bekas luka yang terdapat di lutut, kanan dan kiri.

“Umi juga pernah jatuh, dulu... umi suka naik naik ke pohon, karena umi tidak hati-hati, terus keluar darah banyak sekali…” ujar saya bercerita.

“umi… sama… sakit uga” balasnya mulai tertarik

“Iya kak, kalau tidak hati-hati bisa jatuh ya kak, kalau naik-naik nanti seperti umi, nih, sakit… Jadi, kalau bermain kita harus bagaimana kak supaya tidak sakit?”saya pun mulai mengonfirmasi apa yang Ia tangkap.

“hati-hati” yess… he got it!

Setelah percakapan sederhana itu, saya kembali teringat akan sesuatu yang membuatnya sangat penasaran tadi.

“Kak, kakak tadi mau lihat apa si?”

Tanpa menjawab  dengan kata-kata, Ia langsung pergi ke pohon jambu tadi.

“Umi… tolong” sambil membentangkan tangannya, pertanda ia minta digendong, dan permintaannya pun saya kabulkan dengan senang hati.

“Ulaaaatt” pekikinya. 

Ternyata sesuatu itu adalah seekor ulat bulu berwarna hijau. Hay , ulat bulu manis, terima kasih untuk pelajaran hari ini yah….






#hari9

#gamelevelsatu
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional








Tidak ada komentar:

Posting Komentar