“Anak laki-laki, ga jantan kalau
tidak ada bekas luka…”
Seorang teman pernah berceloteh
demikian, padahal kenyataannya saya sebagai anak perempuan yang –dulu dibilang-
sangat aktif pun selalu memiliki bekas luka. Tetapi, kali ini saya berterima
kasih terhadap pengalaman yang meninggalkan kenangan manis di lutut, jidad, dan
beberapa tempat lain yang justru membuat saya lebih mudah mempraktikan salah
satu poin dalam komunikasi produktif yaitu “Mengganti Nasihat dengan Refleksi Pengalaman”. Ya, pengalaman
memang selalu menjadi guru terbaik. Bahkan, saya sendiri sangat senang belajar
dari kisah-kisah inspiratif sesorang dibandingkan dengan pemberian
motivasi-motivasi yang hanya berbentuk kalmat-kalimat imperative dan persuasif.
***
Seperti hari-hari yang lainnya,
Faqih bermain di halaman, berlari-lari mengejar anak ayam tetangga dan sesekali
mengejar kupu-kupu yang terbang berlalu lalang, sungguh pemandangan yang
menyejukkan mata. Namun, sesuatu menarik perhatiannya, di atas sebuah pohon jambu
yang tidak seberapa besar namun cukup tinggi dibanding tubuh mungilnya. Di sisi
pohon tersebut bersandar sebuah tangga yang memang dijadikan tempat bertengger
ayam. Ia pun membiarkan tubuhnya memuaskan rasa keingintahuannya pun saya
melakukan hal yang sama dengan membiatkannya bereksplorasi. Pelan-pelan ia
naiki tangga tersebut dengan harapan dapat memastikan apa yang dilihatnya tadi.
Sayangnya, kaki mungilnya belum cukup mantap untuk menyeimbangkan gerakan
tubuhnya dan akhirnya... GUBRAAK “adddddduuuuuhh….
Tolong….” Insiden yang tak terhindarkan pun terjadi…
“Kakak… sakit ya?” saya
memberikan sedikit empati untuk menenangkan hatinya.
“adduuhh… sakit” Faqih sediki
mengeluh tapi saya rasa tidak cukup sakit untuk membuatnya menangis, saya pun
mengajaknya kedalam rumah untuk membersihkan luka dan kotoran di dengkul dan
tangannya.
“Kakak… lihat deh, sama kan?”
dengan bangganya saya menunjukkan bekas luka yang terdapat di lutut, kanan dan
kiri.
“Umi juga pernah jatuh, dulu... umi suka naik naik ke pohon, karena
umi tidak hati-hati, terus keluar darah banyak sekali…” ujar saya bercerita.
“umi… sama… sakit uga” balasnya
mulai tertarik
“Iya kak, kalau tidak hati-hati
bisa jatuh ya kak, kalau naik-naik nanti seperti umi, nih, sakit… Jadi, kalau
bermain kita harus bagaimana kak supaya tidak sakit?”saya pun mulai
mengonfirmasi apa yang Ia tangkap.
“hati-hati” yess… he got it!
Setelah percakapan sederhana itu,
saya kembali teringat akan sesuatu yang membuatnya sangat penasaran tadi.
“Kak, kakak tadi mau lihat apa
si?”
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Ia langsung pergi ke pohon
jambu tadi.
“Umi… tolong” sambil membentangkan
tangannya, pertanda ia minta digendong, dan permintaannya pun saya kabulkan
dengan senang hati.
Ternyata sesuatu itu adalah seekor ulat bulu berwarna hijau. Hay , ulat bulu manis, terima kasih untuk pelajaran hari ini yah….
#hari9
#gamelevelsatu
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Tidak ada komentar:
Posting Komentar